Minggu, 06 Juli 2008

Sumba Barat

Sumba Barat merupakan salah satu kabupaten dari dua kabupaten yang ada di pulau Sumba berbatasan bagian utara dengan Laut Sabu, Selatan dan Barat dengan Lautan Indonesia dan sebelah Timur dengan Kabupaten Sumba Timur.

Luas wilayah kabupaten Sumba Barat 4051,92 km2. Dalam banyak hal wujud kebudayaan masyarakat Sumba Barat ada kesamaan dengan kabupaten Sumba Timur, yang terutama adalah pranata religiusnya yakni Merapu sebagai suatu 'Agama Asli' orang Sumba pada umumnya.


Kehidupan paling purba di Sumba khususnya Sumba Barat ditemukan dalam Li'i
Merapu, ialah hikayat suci tentang asal-usul nenek moyang. Biasanya digelar secara khusus diwaktu malam dikisahkan oleh seorang penyanyi dan seorang penderas, secara berganti-ganti, sahut-menyahut diselingi bunyi gong dan genderang. Dalam suasana khidmat dan dengan hati terharu penduduk kampung mendengarkan sejarah kuno yang diceriterakan dengan meriah. Singkat ceritera di pantai Utara disanalah nenek moyang kita menjajakan kakinya, pantai itu Sasar namanya. Tanjung Sasar itu dahulu ada 'Lende Watu' Jembatab Batu yang menyambung pulau Sumba dan Bima, bahkan ada yang menceriterakan jembatan batu tersebut membentang jauh sampai ke pantai Manggarai.

Penduduk Sumba Barat secara tradisional adalah bertani (bersawa) dan berladang dengan padi yang suci (pare) sebagai tenaman pokok yang dihormati. Terdapat beberapa rangkaian upacara dalam mata pencaharian masyarakat Sumba Barat antara lain upacara upacara :

(1) Upacara mengasah parang ( urata patama keto) agar parang /pisau
dan lain-lain dapat berfungsi pada waktu hendak memotong hewan besar, bekerja kebun.
(2) Urata Pogo wasu (menebang pohon)
(3) Urata Tenu ( membakar kayu)
(4) Urata Wuke Oma (membuka kebun) rangkaian upacara ini sebagai pemohon belas
kasih pada dewa untuk meminta kesucian untuk perang, tanah agar menghasilkan
dan hujan yang banyak.
(5) Urata Dengu Ura (memohon hujan) semua acara di atas dipimpin oleh Rato dengan
mengambil ayam yang darahnya dipercik baik ke parang, pohon, maupun tanah.
(6) Urata Dengi Ina ( upacara memetik hasil)

Tidak ada komentar: